Senin, 28 Mei 2012

Mempelajari Ilmu Biologi - Gunung Salak


MENGENAL GUNUNG SALAK

Gunung Salak  merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak astronomis puncak gunung ini ialah pada 6°43' LS dan 106°44' BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.

Wilayah itu memiliki peran penting bagi pelestarian keragaman hayati. Berbagai spesies endemik dan langka hanya ada di gunung ini.

Banyak yang mengira nama Gunung Salak berasal dari nama tanaman Salak, akan tetapi sesunguhnya nama gunung ini berasal dari bahasa sansekerta "Salaka" yang berarti perak. Maka Gunung Salak bermakna "Gunung Perak."
                                                  
Hutan-hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest).



Bagian bawah kawasan hutan, semula merupakan hutan produksi yang ditanami Perum Perhutani. Beberapa jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii) dan rasamala(Altingia excelsa). Kemudian, sebagaimana umumnya hutan pegunungan bawah di Jawa, terdapat pula jenis-jenis pohon puspa (Schima wallichii), saninten (Castanopsis sp.), pasang (Lithocarpussp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae).
Di hutan ini, pada beberapa lokasi, terutama di arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka yang bernama Rafflesia rochussenii yang menyebar terbatas sampai Gunung Gededan Gunung Pangrango di dekatnya.
Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), dadap cangkring (Erythrina variegata), kayu afrika(Maesopsis eminii), jeunjing (Paraserianthes falcataria) dan berbagai macam bambu.

Aneka margasatwa ditemukan di lereng Gunung Salak, mulai dari kodok dan katakreptilburung hingga mamalia.
Hasil penelitian D.M. Nasir (2003) dari Jurusan KSH Fakultas Kehutanan IPB, mendapatkan 11 jenis kodok dan katak di lingkungan S. Ciapus Leutik, Desa Tamansari, Kab. Bogor. Jenis-jenis itu ialah Bufo asperB. melanostictusLeptobrachium hasseltiiFejervarya limnocharisHuia masoniiLimnonectes kuhliiL. macrodonL. microdiscusRana chalconotaR. erythraea dan R. hosii. Hasil ini belum mencakup jenis-jenis katak pohon, dan jenis-jenis katak pegunungan lainnya yang masih mungkin dijumpai. Di Cidahu juga tercatat adanya jenis bangkong bertanduk (Megophrys montana) dan katak terbang (Rhacophorus reinwardtii).
Berbagai jenis reptil, terutama kadal dan ular, terdapat di gunung ini. Beberapa contohnya adalah bunglon Bronchocela jubata dan B. cristatellakadal kebun Mabuya multifasciata dan biawak sungai Varanus salvator. Jenis-jenis ular di Gunung Salak belum banyak diketahui, namun beberapa di antaranya tercatat mulai dari ular tangkai (Calamaria sp.) yang kecil pemalu, ular siput(Pareas carinatus) hingga ular sanca kembang (Python reticulatus) sepanjang beberapa meter.
Gunung Salak telah dikenal lama sebelumnya sebagai daerah yang kaya burung, sebagaimana dicatat oleh Vorderman (1885). Hoogerwerf (1948) mendapatkan tidak kurang dari 232 jenis burung di gunung ini (total Jawa: 494 jenis, 368 jenis penetap). Beberapa jenis yang cukup penting dari gunung ini ialah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan beberapa jenis elang lain, ayam-hutan merah(Gallus gallus), Cuculus micropterusPhaenicophaeus javanicus dan P. curvirostrisSasia abnormisDicrurus remiferCissa thalassinaCrypsirina temiaburung kuda Garrulax rufifrons,Hypothymis azureaAethopyga eximia dan A. mystacalis, serta Lophozosterops javanica.
Sebagaimana halnya reptil dan kodok, catatan mengenai mamalia Gunung Salak pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi di gunung ini jelas ditemukan beberapa jenis penting seperti macan tutul(Panthera pardus), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata) dan trenggiling (Manis javanica).

Hujan dan Dingin 

 
Rata-rata curah hujan bulanan yang cukup tinggi di kawasan Gunung Salak terjadi pada November hingga Mei. Pada saat kecelakaan Sukhoi, kondisi cuaca pun dilaporkan tidak bersahabat. 

Umumnya curah hujan di atas 300mm per bulan. Pada Juni hingga Oktober, curah hujan lebih rendah kurang dari 300m per bulan. 

Suhu udara rata-rata di kaku Gunung Salak sekitar 25,7 derajat Celcius. Menurut Hadiyanto (1997), suhu maksimum sekitar 29,9 derajat Celcius dan minimum 21,6 derajat Celcius. 

Menurut Vivien (2002), tanah di Kawasan Gunung Salak sebagian besar terdiri dari jenis Andosol. Lapisan atas kaya akan zat organik berwarna merah hingga kehitaman. Tekstur lempung sampai lempung liat berdebu.
Lapisan di bawahnya merah kekuningan, cokelat kemerahan, hingga cokelat kuat. Tekstur lempung bagian ini sampai lempung berpasir. 

Menurut Sandy (1997), ekosistem Gunung Salak sangat rentan terhadap gangguan. Masalah ini mengingat topografinya yang terletak di daerah ketinggian dengan lereng curam dan curah hujan yang relatif besar mencapai 3.000mm per tahun. 

Gangguan tersebut mengakibatkan perubahan pada distribusi, komposisi, struktur, dan berbagai tipe ekosistem pegunungan.

Keragaman Hayati

Gunung Salak menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Lokasi kawasan sub pegunungan dapat didaki dari beberapa lokasi. Bisa melalui Desa Gunung Bunder Dua dan Desa Gunung Sari. 

Tipe vegetasi berdasarkan penelitian Wiharto (2008) terdiri atas beberapa aliansi hutan:
  1. Aliansi hutan Schimawalichii-Pandanus punctatus/ Cinchona sinensis. Selanjutnya disebut Aliansi 1.
  2. Aliansi hutan Gigantochloa apus-Mallotus blumeana/ C. sinensis,  selanjutnya disebut Aliansi
  3. Aliansi hutan Pinus merkusii-Dysoxylum  arbo-rescens/Dicranopteris dichotoma, berikutnya disebut Aliansi 3.
 Pengaruh ketinggian  tempat  terhadap pertumbuhan pohon bersifat  tidak langsung  (Soedomo  1984).  Artinya, perbedaan  ketinggian  tempat  akan  mempengaruhi  keadaan lingkungan  tumbuh pohon, terutama  suhu, kelembapan,  O2  di  udara,  dan  keadaan  tanah.  Keadaan  lingkungan  tumbuh ini akhirnya mempengaruhi pertumbuhan pohon

Tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 beberapa waktu lalu di sekitar Gunung Salak memang sangat mengejutkan, ternyata Gunung Salak memang menyimpan banyak misteri seperti yang di bicarakan banyak orang.

Menurut masyarakat Sunda Wiwitan yang banyak menempati daerah seputar gunung tersebut, Gunung Salak merupakan tempat yang dianggap suci lantaran dipercaya sebagai tempat terakhir dari Prabu Siliwangi, pendiri kerajaan Padjajaran. Karena dianggap keramat, tidak mengherankan jika sejumlah pendaki gunung kerap menemui para 'penziarah' yang datang untuk berdoa memohon berkah kepada para leluhur.

Ada yang menyebutkan pula, Gunung Salak merupakan lokasi tempat pernikahan antara manusia dan jin. Karena tidak mengherankan, jika menyusuri jalan menuju puncak, terdapat beberapa situs pemujaan hingga makam keramat yang dipercaya merupakan makam Embah Gunung Salak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar